Konferensi Pers Hasil Penindakan DJBC Bersama Inspektorat II terhadap Penyelundupan 7 Kontainer Daging

oleh Yohana Tiara Eka Putri, diterbitkan pada 2016-06-20 06:30:17
Liputan Khusus Berita Utama





Jakarta - Rabu, 16 Juni 2016 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) melakukan Konferensi Pers Hasil Penindakan terhadap Penyelundupan berupa tujuh kontainer daging dai New Zealand, Australia melalui Terminal Mustika Alam Lestari, Tanjung Priok. Pelaksanaan kegiatan berlokasi di Tempat Pemeriksaan Fisik Terpadu (TPFT) Graha Segara, Tanjung Priok dan dimulai pada pukul 10.00 WIB. Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan juga diundang untuk hadir menyaksikan agenda tersebut dan diwakilkan oleh Inspektur II Setiawan Basuki beserta tim, yang terdiri atas Ali Mugiono  dan Machmud YunusPada pukul 09.00 WIB, wartawan telah memenuhi area yang disiapkan untuk dilakukannya konferensi pers.




Sebagaimana disampaikan, penyelundupan daging impor ilegal mengganggu usaha pemerintah yang sedang mencoba menstabilkan harga daging dalam bulan Ramadhan. Pedagang lokal pasti mengeluh karena kalah saing dalam hal perdagangan. Di tengah harga daging yang melonjak naik, para penyelundup mampu menjual daging dengan harga yang lebih murah dan mengganggu stabilitas perekonomian. Penyelundupan yang dilakukan oleh PT CSUB dinilai ilegal dengan memanipulasi berkas administratif dengan cara memberi label daging dengan label pakan ternak serta melanggar peraturan pabean (Peraturan Menteri Pertanian Nomor 58/Permentan/PK.210/11/2015 tentang Pemasukan Karkas, Daging, dan/atau Olahan Lainnya ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia dan Importasi dengan data PIB yang tidak benar, diduga melanggar Undang-Undang No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 17 Tahun 2006).

Ketika dilakukan uji laboratorium di Balai Penelitian dan Identifikasi Barang (BPIB) Jakarta, terbukti bahwa isi bungkusan tidak sesuai dengan uraian dalam PIB yang menyebutkan barang berupa monocalcium phosphate feed grade (bahan kimia sebagai bahan makanan atau pakan ternak) dan memanipulasi informasi jumlahnya dengan menyatakan sebanyak 7000 bg (175.000 kg).




Memang terjadi peningkatan dalam jumlah kasus penyelundupan daging impor yang melalui Tanjung Priok. Dalam hal ini Bea Cukai terus bekerja keras untuk membongkar setiap kasus dan memperbaiki ke depannya agar jangan lagi terjadi hal serupa yang melanggar peraturan dan mengganggu stabilitas perekonomian.

Dalam konferensi pers, dinyatakan bahwa kasus ini akan dilanjutkan ke tahap penyidikan. Kemudian terkait barang hasil tangkapan, pihak Ditjen Bea Cukai menyerahkan kepada Badan POM terlebih dahulu, untuk diteliti kandungannya. Apabila positif sehat, maka daging jeroan dapat dihibahkan ke masyarakat atau dilelang, tergantung pertimbangan selanjutnya. Namun apabila tidak memenuhi syarat sehat, maka akan dilakukan pemusnahan.




Itjen dan tim saksi lainnya menyaksikan 7 kontainer yang memuat daging jeroan impor berupa Beef Heart, Beef Livers, Beef Neck Trim, Beef Kidney, Beef Lung, Beef Feet yang telah dibungkus dengan bungkusan berwarna coklat sebanyak 9273 dan diberi label pakan ternak.





Urutan dari sisi paling kiri: R. Fadjar Donny Tjahjadi (Kepala KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok), Setiawan Basuki (Inspektur II Itjen Kemenkeu), Heru Pambudi (Direktur Jenderal Bea dan Cukai), Ali Mugiono (Koordinator Kelompok Jabatan Fungsional Auditor II.1 Itjen Kemenkeu), dan Harry Mulya (Direktur Penindakan dan Penyidikan DJBC).



Lampiran


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN