Sambutan Menteri Keuangan dalam Pembukaan Rakerpim Akhir Tahun 2016

oleh Nurul Vita Dewi Saras, diterbitkan pada 2016-12-02 04:36:35
Liputan Khusus Liputan Utama Berita Utama Galeri




Jakarta, 1 Desember 2016Sesuai dengan agenda kerja Inspektorat Jenderal tiap tahunnya, Inspektorat Jenderal menggelar Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) Akhir Tahun 2016 yang diagendakan pada tanggal 1, 2, dan 5 Desember 2016. Pembukaan Rakerpim yang bertempat di Aula Gedung Eks Mahkamah Agung Prijadi Praptosuhardjo kali ini menghadirkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, sekaligus secara resmi meluncurkan nilai internal berupa Spirit Itjen yang merupakan turunan dari nilai-nilai Kementerian Keuangan Integritas-Profesionalisme-Sinergi-Pelayanan-Kesempurnaan yang disepakati dengan usulan nama WISE (Wisdom, Integrity, Solution, and Effectiveness). Rakerpim Akhir Tahun 2016  ini mengambil tema “Refocussing Pengawasan Inspektorat Jenderal dalam Mendorong Optimalisasi Penerimaan Perpajakan (Pasca Tax Amnesty) dan PNBP serta Peningkatan Akuntabilitas Anggaran BUN”.  Penyelenggaraan Rakerpim ini diharapkan dapat menghasilkan suatu rumusan yang bersifat strategis berkaitan dengan optimalisasi penerimaan negara dan pengawasan pelaksanaan Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA-BUN) agar Inspektorat Jenderal dapat melaksanakan perannya secara efektif dan memberikan nilai tambah bagi Kementerian Keuangan.

 

Sri Mulyani Indrawati menilai Inspektorat Jenderal dalam penyelenggaraan Rakerpim kali ini telah mengambil tema yang tepat karena melakukan refocusing di dalam prioritas kerja terutama untuk menyambut tahun 2017. Hal ini merupakan bentuk respon yang cepat dengan menyimak apa yang terjadi di Kementerian Keuangan.

 

Menteri Keuangan menyatakan bahwa Inspektorat Jenderal merupakan alat kelengkapan dari Menteri Keuangan dalam menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan amanat dalam upaya meningkatkan penerimaan negara dan itu membutuhkan banyak sekali elemen. Dengan memiliki Spirit WISE (Wisdom, Integrity, Solution, Effectiveness) adalah suatu pilihan yang cukup tepat untuk mengatakan bahwa di dalam menjalankan tugas fungsi Kementerian Keuangan yaitu menjaga keuangan negara terdapat elemen kepatuhan terhadap perundang-undangan, elemen mengenai kejujuran, tidak hanya mempunyai elemen untuk sekedar menjaga sense of integrity, tetapi juga meyakinkan stakeholder bahwa kita efektif dan memberikan solusi. Karena bisa saja Kementerian Keuangan memiliki sistem keuangan negara yang tertib dan dijaga secara ketat dan baik namun tidak memberikan solusi dan tidak efektif untuk dijalankan. Untuk menjadi efektif dan memberikan solusi tidak berarti kita harus mengorbankan integrity. Itulah yang disebut wisdom.





Menteri Keuangan berharap Inspektorat Jenderal sebagai Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) bisa memberikan inspirasi kepada unit-unit lain di Kementerian Keuangan. Inspektorat Jenderal dapat memberikan saran dan inspirasi bagaimana mengkombinasikan antara effectiveness dan solusi dengan integrity melalui kalimat wisdom ini. Menurut Menkeu, Inspektorat Jenderal harus tidak boleh berhenti pada level spirit WISE. Inspektorat Jenderal sebagai APIP sangat paham karakteristik dari setiap transaksi dan organisasinya sendiri. Pemahaman APIP yang sangat mengerti mengenai nature organisasi, nature transaksi, nature dari fungsi Kemenkeu, serta mengerti karakter-karakter dari fungsi dan tugas-tugas yang harus diemban oleh Kemenkeu, harus memunculkan suatu ide, pemikiran, dan contoh konkrit bagaimana mengkombinasikan effectiveness, solution, dengan integrity. Tidak boleh dan tidak seharusnya diinterpretasikan bahwa jika kita ingin menjaga integrity berarti kita tidak bisa efektif. Integritas itu bukan hanya patuh dan taat pada aturan saja tetapi juga untuk mencari tujuan organisasi dengan suatu tata kelola.


Namun kalau kita sekarang meminta Inspektorat Jenderal untuk membantu di dalam kita memfokuskan penerimaan negara baik dari perpajakan maupun non pajak, maka saya berterima kasih apabila fokus itu bisa memberikan berbagai macam ide-ide baru dan langkah-langkah yang berguna bagi kita untuk memperbaiki bagaimana kita merancang, menjalankan APBN 2017. Tinggal satu bulan terakhir di tahun 2016, sehingga kita perlu itu untuk bisa menjadi pedoman kita di dalam menjalankan APBN 2017 secara lebih baik. Saya membutuhkan banyak sekali masukan, pemikiran, solusi yang seperti saya katakan berulang-ulang contoh yang konkrit dari Anda semua. Jadi ini adalah satu topik yang saya betul-betul harapkan untuk ada kinerjanya, ada hasilnya. Sehingga jangan sampai Anda kemudian baru menghasilkan nanti pada rapat kerja 2017 bulan Desember, “Ibu, ini ide saya”. Ya itu sudah lewat,” terang Menkeu dalam pembukaan Rakerpim Akhir Tahun 2016.

 



“Anda adalah tangan kanan dari Menteri Keuangan untuk bisa menjalankan, melihat potensi dan menjaga compliance. Itu tugas yang luar biasa prestisius dan berat. Tugas Anda itu sangat prestisius, sama dengan tugas Menteri Keuangan yang harus menjaga keuangan negara, sangat prestisius. Makanya kita mengatakan kita itu memiliki privilege, diberi tugas itu oleh negara, dipilih untuk menjalankan fungsi itu. Namun itu juga saya katakan berat karena menyangkut berbagai macam fondasi yang harus kita bangun. Jadi saya katakan sekali lagi Tim Inspektorat Jenderal harus melakukan adjustment, refocussing, dan cara kita untuk dapat berkontribusi di dalam keseluruhan itu, saya harap bisa harmonis dan sinergi dengan apa-apa yang sedang dilakukan sehingga dia (Itjen,-red) tidak menjadi tambahan beban, tapi dia menjadi tambahan kekuatan untuk kita mencapai tujuan bersama,” lanjutnya.

 

Mengenai tema kedua dalam Rakerpim Akhir Tahun ini yaitu akuntabilitas anggaran BUN, Menteri Keuangan berharap BA-BUN untuk terus dilakukan reviu. Inspektorat Jenderal harus mengetahui ruang lingkup serta apa saja yang harus diperbaiki dan perlu dikoreksi. PMK Nomor 204/PMK.09/2015 tentang Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Anggaran BA-BUN memang berfokus pada pengawasan pelaksanaan. Namun Menkeu berharap pada saat Inspektorat Jenderal mengawasi pelaksanaan, Itjen juga bisa memberikan rekomendasi mengenai bagaimana BA-BUN itu seharusnya didesain. Tidak hanya dikelola dan dilaksanakan, tapi didesain. Jika Inspektorat Jenderal melihat suatu temuan yang repetitif, Itjen harus menganalisis mengapa itu terjadi. Apakah cara kita mendesain salah sehingga ini menjadi suatu kesalahan yang berulang.




Dalam akhir sambutannya Menkeu berpesan bahwa Inspektorat Jenderal jangan membuat program-program yang terlalu ambisius tapi tidak kredibel. Jika Itjen ingin membuat praktik kerja, harus membuat praktik kerja yang bisa dilakukan karena itu adalah bagian dari credibility dan effectiveness. Jangan membuat program kerja yang tujuannya hanya ekspansi dari kewenangan. Saya ingin Itjen fokus clear what do you want to achieve. Menjadi kredibel karena Anda profesional, efektif dan memberikan solusi. Dan kita juga senang berinteraksi dengan Anda karena saya tahu ini adalah orang yang saya bisa rely, unit yang saya bisa rely. Who remind me.” Menkeu dalam beberapa pidatonya mengatakan bahwa kewenangan Kementerian Keuangan itu besar sekali, “Dan kewenangan yang besar itu selalu memunculkan temptation untuk abuse dan missconduct.” “Anda merupakan alat yang memang didesain untuk menjadikan power itu tetap amanah. Jadi actually you have to be proper. Unpopular but proper. That is so difficult. Anda itu akan dihormati, disegani tapi tidak ditakuti. Saya segan betul, saya hormat betul. That is the ultimate of professionality. Dan saat Anda melakukan tugas-tugas yang seperti itu sulit, Anda tetap dapat menjalankannya secara proper, respectable. That is yang saya sebut sebagai the ultimate Inspektorat Jenderal. Itu yang saya sebut kinerjanya Inspektorat Jenderal. Anda bisa membuat banyak kinerja-kinerja yang lain yang kita ukur. Tapi kalau kita sebut value, attitude, character, that is! Dan saya rasa pilihan anda untuk membentuk WISE tepat, itu kombinasi yang diharapkan.




Terakhir dalam sambutannya dalam Rapat Kerja Pimpinan Akhir Tahun 2016, Menteri Keuangan menyampaikan dukungannya dalam tugas yang diemban oleh Inspektorat Jenderal, “Tolong benar-benar membantu organisasi kami, kita semua untuk bisa menjalankan tugasnya secara baik di dalam konteks yang makin challenging. Dan tetap berfokus pada tahun depan, bulan depan, minggu depan, besok pagi, we have to be better than today! Selamat berapat kerja dan semoga ikhtiar dan berbagai macam program betul-betul bermanfaat tidak hanya untuk Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan tapi juga untuk seluruh Republik Indonesia.” Kemudian Menteri Keuangan ditemani Wakil Menteri Keuangan dan Plt. Inspektur Jenderal melakukan pemukulan gong cara simbolis untuk secara resmi membuka acara Rapat Kerja Pimpinan Akhir Tahun 2016 Inspektorat Jenderal. 

 

 



ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN