PT Astra International Berbagi Ilmu Pencegahan Fraud

oleh Yohana Tiara Eka Putri, diterbitkan pada 2017-04-13 07:47:17
Berita Utama Liputan Utama





Jakarta, 12 April 2017 – Dalam kehidupan organisasi, apalagi organisasi besar, pasti selalu ada proses controling dan monitoring untuk mencegah timbulnya fraud. Apabila fraud ditemukan pun, organisasi akan berusaha mencari solusi yang tepat agar dapat mengatasi fraud sampai ke akar-akarnya. Hal ini berlaku juga di Kementerian Keuangan, khususnya Inspektorat Jenderal (Itjen). Oleh karena itu, Inspektorat Bidang Investigasi (IBI) mengadakan workshop Peningkatan Efektivitas Pengawasan Intern dan Pencegahan Fraud Melalui Penilaian Risiko Fraud dengan mengundang narasumber dari PT Astra International Tbk.






Acara yang bertempat di Ruang Rapat Inspektorat Jenderal Lantai 12 Gedung Djuanda II ini, dibuka oleh Auditor Madya IBI Diana Malemita Ginting yang mewakili Inspektur Bidang Investigasi. Auditor Madya IBI lainnya, Peter Umar, berperan sebagai moderator pada workshop ini. Narasumber yang didatangkan dalam workshop ini adalah Suryaningrum selaku Audit Division Head of Group Audit and Risk Advisory. Hadir pula Irfan selaku Manager Internal Audit dan Dani Chandra selaku investigator.

Ada tiga materi yang dibahas. Materi pertama dibawakan membahas tentang perusahaan PT Astra International Tbk. secara umum. Selain penjualan di bidang otomotif, PT Astra International Tbk. juga bergerak di bidang jasa keuangan, alat berat dan pertambangan, agribisnis, infrastruktur, teknologi informasi, dan properti. PT Astra International Tbk. juga memiliki Catur Dharma sebagai corporate philosophy yang menjadi dasar dalam membuat kode etik dan bisnis etik.






Materi kedua adalah tentang Astra Anti Fraud Framework yang telah dijalankan di PT Astra International Tbk. selama tiga tahun belakangan. Salah satu pilarnya adalah Fraud Risk Governance yang merupakan cara preventif untuk munculnya fraud di perusahaan.Terdapat juga fraud risk assessment untuk mengidentifikasi fraud risk yang sudah terjadi dilihat dari fraud risk factor-nya, kemudian kita lihat impact dari fraud tersebut sehingga dapat dibuat fraud risk response.

Materi ketiga adalah tentang surveillance yang dilakukan PT Astra International Tbk. Dalam melakukan surveillance, PT Astra International memiliki whistle blower tools untuk melihat kejanggalan pada anomali transaksi perusahaan.






Internal audit harus bisa menjadi katalisator dari setiap perubahan yang dilakukan oleh perusahaan menuju hal yang lebih baik. Tidak hanya berada di garda depan atau belakang, tetapi harus terus mendampingi perusahaan. Sebagai penutup, Suryaningrum mengatakan bahwa fraud bisa cepat diketahui dan ditangani dengan teknologi. Maka, penerapan audit berbasis IT sangat dianjurkan.