Tokyo Metropolitan Government Juga Belajar pada Itjen Kemenkeu

oleh Aisha Alsakina, diterbitkan pada
Liputan Utama Berita Utama





Jakarta, 2 Oktober 2019 – Lain dari biasanya, hari ini Itjen Kemenkeu mendapat kunjungan dari Audit and Inspection Commissioners of The Tokyo Metropolitan Government. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari riset pemerintah Tokyo Metropolitan yang sedang bersiap untuk menerapkan audit berbasis teknologi informasi (TI). Kunjungan berlangsung sedari siang hingga sore bertempat di Ruang Rapat Sekretaris Inspektorat Jenderal.





Director for Audit and Inspection Masaki Echizen mengungkapkan dirinya mendapat rekomendasi dari Japanese Audit Board untuk mengunjungi Indonesia. Japanese Audit Board menganggap Indonesia termasuk salah satu negara yang telah advance dalam pelaksanaan audit berbasis IT. Atas dasar tersebut, Institut of Internal Auditor (IIA) Indonesia yang mendampingi tim Tokyo Metropolitan selama di Indonesia memberikan rekomendasi untuk mengunjungi Itjen Kemenkeu sebagai salah satu yang terdepan dalam bidang audit TI di pemerintahan Indonesia. Selain Itjen Kemenkeu, rupanya pada pagi ini mereka telah mengunjungi Badan Pemeriksa Keuangan dan esok hari akan menjadi giliran Pemprov DKI Jakarta.




Selaku unit yang bertugas untuk mengembangkan TI dalam sektor audit, Inspektur VII Roberth Gonijaya turut membawa serta timnya dalam pertemuan ini. Roberth pula yang memaparkan sistem audit pemerintah yang ada di Indonesia dan Itjen Kemenkeu secara spesifik.

Hampir semua dijelaskan secara lengkap dan gamblang oleh Roberth. Mulai dari struktur pemerintah, sistem audit pemerintah Indonesia, struktur dan proses bisnis Itjen, hingga penggunaan Team Mate dan ACL dalam pelaksanaan audit. Rupanya tak hanya Itjen Kemenkeu saja yang mempersiapkan banyak hal untuk kunjungan ini, tim Tokyo Metropolitan sebelum datang juga telah menyiapkan sejumlah pertanyaan mendalam mengenai penerapan audit berbasis TI. Sinergi ini menjadikan proses transfer knowledge berlangsung efektif dan efisien.





Dalam proses pembelajaran ini tak dapat dipungkiri peserta menemui kesulitan. Di samping hambatan bahasa, terdapat perbedaan sistem pemerintahan yang mengakibatkan sulitnya melakukan perbandingan untuk rencana penerapan di Tokyo Metropolian. Penggunaan istilah e-Audit dan perbedaan materi yang diperoleh dari kunjungan BPK juga sempat menimbulkan kebingungan. Meskipun demikian, hal tersebut tidak menghambat upaya Itjen Kemenkeu untuk membagikan ilmu secara maksimal. Dengan bantuan interpreter, Roberth dan tim berusaha terus menerus memberikan gambaran yang jelas akan sistem audit di Itjen.

Di akhir acara nampak wajah-wajah yang puas akan banyaknya ilmu yang diserap dalam sesi yang singkat ini. Diharapkan kedepannya Itjen dapat mengembangkan TI agar terus menjadi yang terdepan dan dapat menjadi contoh yang baik tidak hanya di Indonesia, bahkan hingga ke luar Indonesia seperti Tokyo Metropolitan ini. (ELZ)



ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN