Kolaboraksi Ayah dan Ibu, Kunci Keberhasilan ASI

oleh Elzami Haqie, diterbitkan pada 2020-02-28 07:29:59
Galeri Liputan Utama Berita Utama




Jakarta, 26 Februari 2020 – Keberhasilan program pemberian ASI eksklusif seperti dalam pasal 37 Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tidak dapat berhasil jika hanya dilakukan oleh sang ibu saja. Keberhasilan seorang ibu dalam memberikan ASI kepada buah hatinya adalah atas dukungan dan sinergi dari semua pihak baik secara perorangan, kelompok, organisasi hingga pemerintah.

Inspektorat Jenderal bekerja sama dengan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyelenggarakan seminar tentang Ibu menyusui, yang mengundang pegawai Itjen dan perwakilan masing-masing unit eselon I lain. Acara dengan tema: KolaborAksi Ayah & Ibu Kunci Keberhasilan ASI ini bertempat di Aula Nagara Danarakca Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Gedung Radius Prawiro Lantai 1.

Acara yang mengundang Ketua Umum AIMI sebagai narasumber ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya sinergi ayah dan ibu dalam menyukseskan program ASI eksklusif serta wujud pelaksanaan program kerja pengarusutamaan gender di lingkungan Kemenkeu sesuai dengan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional.

Dalam sambutannya, Irjen Sumiyati mengingatkan kepada para bapak-bapak maupun calon bapak untuk menyadari bahwa menyusui bukan hanya peran seorang ibu. Oleh karena itu, bapak-bapak juga harus teredukasi terkait pemberian ASI sehingga dapat menghasilkan generasi yang sehat. “Menyusui merupakan suatu kodrat yang diberikan oleh Tuhan YME kepada perempuan, kepada ibu. Peran dan tugas ini tidak bisa didelegasikan kepada lelaki. Melekat pada seorang ibu,” ujar Sumiyati.

“Namun suami harus men-support istri dengan memberikan gizi yang bagus, mengatur iklim yang baik di keluarga, dan berbagi tugas domestik. Sehingga, sang ibu benar-benar merasa nyaman bahagia dan bisa memberikan ASI yang baik untuk putra-putrinya,” sambung beliau.

“Keberhasilan menyusui bergantung dari banyak pihak, terutama pasangan. Mengurus anak adalah urusan berdua, bukan urusan istri saja,” buka Nia Umar selaku Ketua Umum AIMI dalam seminar kali ini. Nia mengingatkan kepada para ayah dan ibu terkait standar emas asupan bayi berdasar pada tumbuh kembang secara optimal dalam golden period menurut Resolusi WHO Nomor 55.25 Tahun 2002. Standar emas tersebut adalah Inisiasi Menyusu Dini (IMD) secepatnya didukung dengan rawat gabung, ASI eksklusif hingga enam bulan, MPASI homemade mulai enam bulan, serta ASI diteruskan hinggan dua tahun atau lebih.

Nia memahami bahwa menyusui belum tentu menjadi pilihan setiap orang tua. Namun, ASI tetap menjadi pilihan setiap bayi. Setiap bayi memiliki hak untuk disusui dan mendapatkan ASI. Disinilah motivasi dan dukungan dari orang terdekat sangat penting. Dari beberapa kasus konseling menyebutkan banyak keluarga baru yang tidak cukup tahu tentang informasi mengASIhi, sehingga mereka merasa tidak mampu.

Sebuah Studi di daerah urban Jakarta Tahun 2008 mengatakan bahwa seorang Ayah dikatakan mendukung praktek pemberian ASI bila ayah memiliki pengetahuan yang baik tentang hal-hal yang berhubungan dengan pemberian ASI, memiliki hubungan yang baik dengan ibu, dan juga terlibat dalam keharmonisan hubungan pola menyusui tripartit (yaitu antara ayah, ibu, dan bayi). Beberapa peneliti mengkaji ulang 11 penelitian yang mempelajari peranan ayah dalam pengambilan keputusan untuk menyusui, dan menemukan bahwa sekitar 75% dari para ibu melaporkan bahwa faktor ayah sangat penting ketika memutuskan untuk menyusui.

Sebagai penutup, Nia menegaskan beberapa hal untuk diresapi para ayah dan ibu. Ibu yang mau, tahu dan mampu maka pasti bisa mengASIhi, keberhasilan menyusui adalah tanggung jawab kita bersama, dan menyusui merupakan investASI masa depan bangsa.

 



ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN