Komitmen Kuat Bersama Perangi Narkoba

oleh Elzami Haqie, diterbitkan pada 2020-07-17 03:06:35
Galeri Berita Utama Liputan Utama




Jakarta, 16 Juli 2020 - Indonesia berada dalam status darurat narkoba. Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia (Bareskrim Polri) sepanjang Januari hingga April 2020 telah mengungkap belasan ribu kasus narkotika dengan ribuan tersangka dan barang bukti yang disita mencapai 5,53 ton berbagai jenis narkoba. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan penyalahgunaan narkoba kian meningkat khususnya di kalangan remaja, dimana terdapat peningkatan sekitar 24 hingga 28 persen remaja yang menggunakan narkoba.

Menanggapi hal tersebut, dalam rangkaian acara Dies Natalies Lima Politeknik Keuangan Negara STAN (PKN STAN) diadakan Webinar Peredaran Narkotika dan Bahayanya bagi Generasi Muda Indonesia. Mengingat pula bahwa PKN STAN menghasilkan lulusan yang nantinya akan ditempatkan di DJBC, dimana banyak ikut berperan dalam melawan narkoba. Webinar ini diselenggarakan melalui aplikasi zoom meetings pada Kamis (16/7) pagi. Sebagian besar peserta berasal dari kalangan mahasiswa PKN STAN. Selain itu, Webinar juga disiarkan secara langsung di kanal Youtube PKN STAN.

Webinar dibuka secara langsung oleh Direktur PKN STAN Ramadi Murwanto. Acara ini juga turut mengundang sebagai narasumber yaitu Direktur Advokasi BNN Supratman, Kepala Subdirektorat Narkotika Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Tery Zakiar Muslim dan Imelda Indriyani dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat. Dengan Kaprodi DIII Kepabedanan dan Cukai PKN STAN Budhi Setyawan sebagai narasumber. Inspektur Jenderal Kemenkeu turut hadir memberikan keynote speech terkait pencegahan penyalahgunaan narkoba di Kemenkeu.

Mengawali pembukaannya, Irjen Kemenkeu Sumiyati mengatakan jika dilihat dari dampaknya, penyalahgunaan narkoba merupakan kejahatan luar biasa yang mampu merusak kehidupan bangsa. Sehingga harus ditangani dengan cara yang luar biasa pula. Namun bukan pekerjaan mudah memerangi penyalahgunaan narkoba mengingat kondisi geografis Indonesia yang begitu luas menjadi tantangan yang tidak ringan. Sehingga diperlukan koordinasi kuat antar lembaga terkait untuk memerangi narkoba.




Penyalahgunaan narkoba membawa dampak negatif bagi individu maupun organisasi. Kemenkeu berkomitmen kuat memerangi narkoba. Menkeu Sri Mulyani pun telah berkali-kali menyatakan dengan tegas tidak ada kompromi dengan penyalahgunaan narkoba. Hal ini ditunjukkan dengan dibentuknya unit khusus DJBC untuk menangani masalah narkoba. Penindakan yang dilakukan DJBC tiap tahunnya mengalami kenaikan. Semester pertama tahun ini, DJBC telah menggagalkan 378 upaya penyelundupan narkotika dan psikotropika. Prestasi ini tentunya membutuhkan lebih dari sekedar kecerdasan intelektual, namun juga fisik dan mental yang kuat. Oleh karena itu, Sumiyati berpesan kepada mahasiswa PKN STAN khususnya mahasiswa jurusan Kepabeanan dan Cukai harus selalu menjaga kesehatan dan kebugaran.

Selain melalui DJBC, upaya memerangi narkoba di lingkungan Kemenkeu juga dilakukan melalui internalisasi Nilai-Nilai Kementerian Keuangan. Juga telah diterbitkan PMK 190 tahun 2018 tentang Kode Etik dan Kode Perilaku PNS di Lingkungan Kemenkeu agar dipedomani seluruh pegawai Kemenkeu dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu prinsip three lines of defense memiliki peran yang tak kalah krusial dalam melindungi pegawai dari bahaya narkoba. Jajaran manajemen sebagai first line harus bertindak aktif dengan menaruh perhatian kepada semua pegawai di lingkungannya. Di second line, UKI melakukan profiling dari berbagai macam analisis melalui digital footprint, pemantauan gaya hidup dan perilaku pegawai. Itjen Kemenkeu sebagai third line memerangi narkoba dengan melakukan surveilance, mengadakan sosialisasi dan himbauan, serta penindakan jika memang ada yang terbukti menyalahgunakan narkoba. “Upaya yang kami lakukan adalah melakukan pencegahan, tapi kalau sudah diingatkan masih bandel juga ya dilakukan penindakan.” tegas Sumiyati.

Sumiyati mengajak seluruh jajaran Kemenkeu untuk menjaga bersama Kementerian Keuangan dari bahaya narkoba. Khusus untuk DJBC, sekali lagi Sumiyati menekankan diperlukan fisik dan mental yang lebih kuat. Tak lupa Sumiyati berpesan kepada mahasiswa untuk berkontribusi memerangi narkoba dengan melaporkan penyalahgunaan narkoba melalui aplikasi WISE. “Mari Jadikan momentum Dies Natalies Lima untuk merefleksi dan memperbaiki diri, serta senantiasa menjadi insan Kemenkeu yang mampu turut menjaga dan memajukan negeri.” pungkasnya.

Di sesi pemaparan, Direktur Advokasi BNN Supratman sepakat dengan Irjen Kemenkeu. Kondisi geografis Indonesia dengan banyaknya pintu masuk, membuka celah untuk penyelundupan narkoba. Sehingga diperlukan koordinasi yang kuat dengan DJBC sebagai pengawas perbatasan. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Kepala Subdirektorat Narkotika DJBC Tery Zakiar Muslim bahwa bea cukai sebagai border control atau pengawas perbatasan yang meliputi udara, laut, dan darat ikut berperan dalam pemberantasan peredaran gelap narkotika. Karena narkotika menjadi objek pengawasan terkait tusi DJBC yaitu mengawasi lalu lintas barang dari dan ke dalam daerah pabean, dalam hal ini NKRI. Sinergi pemberantasan peredaran narkoba bersama BNN semakin kuat dengan adanya POLRI. Pemaparan terakhir disampaikan oleh Imelda Indriyani dari RSKO tentang dampak penggunaan narkotika bagi generasi muda Indonesia. Webinar yang menghadirkan para narasumber ahli ini diakhiri dengan sesi tanya jawab.