Menyelami Karakteristik Milenial dalam Dunia Kerja

oleh Kurnia Fitri Anidya, diterbitkan pada 2020-07-27 09:43:53
Tanpa Kategori Liputan Utama Liputan Khusus Galeri Berita Utama Menu


Jakarta, 23 Juli 2020 - Generasi Y atau yang biasa disebut milenial telah mendominasi dua pertiga penduduk Indonesia dengan usia produktif kurang lebih 50,36%. Sebagai generasi yang acap kali diidentikkan dengan tidak sabaran dan kurang loyal, milenial sering menghadapi tantangan dalam hubungan kerja dengan generasi lain. Di Kementerian Keuangan sendiri, populasi milenial mencapai 60% dari total pegawai.

Memahami gap antar generasi dan mengoptimalkan produktivitas milenial di Kementerian Keuangan dirasa sangat penting. Oleh karenanya, Sekretariat Inspektorat Jenderal menyelenggarakan Workshop “Engaging with millenials: Millenials and Other Generations: How To Understand Each Other?”. Acara ini menghadirkan dua narasumber ahli di bidangnya yaitu, 2nd Runner Up Miss World 2016 Natasha Mannuela dan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya sekaligus Praktisi HR dan OD Consultant Puji Tania Ronauli.


   

   

 


Irjen Sumiyati dalam pembukaannya mengatakan bahwa gap antar generasi jika tidak diatasi maka akan menimbulkan permasalahan dan menghambat kinerja organisasi. Maka gap itu perlu diatasi dengan baik, agar semua dapat memiliki visi dan arah yang sama, serta bahu membahu mensinergikan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki.

Natasha Mannuela menyampaikan bahwa generasi milenial memiliki karakter yang berbeda dengan generasi lainnya. Generasi Y memiliki kecenderungan multitasking, kreatif, percaya diri, fast learner, dan toleran. Namun di sisi lain, perlu dipahami bahwa milenial juga merupakan generasi yang sering dinilai tidak sabaran, mudah stres, dan tidak loyal. Dengan karakteristik tersebut, generasi Y lebih mengutamakan work-life balance, pekerjaan yang nyaman, hubungan interpersonal dalam pekerjaan, dan  prestasi. Prioritas tersebut membuat milenial sering menghadapi tantangan dalam hubungan pekerjaan seperti, menghadapi stereotip, kemajuan teknologi, dan, gap antar generasi.


   

    


Natasha menekankan kepada milenial dalam menghadapi permasalahan dalam dunia pekerjaan, bahwa milenial perlu memegang teguh prinsip dan norma, serta mampu menjaga sikap dalam berkarir. Penting bagi generasi Y untuk menghargai dan bertoleransi dengan orang lain, karena kita tidak akan spesial tanpa kehadiran orang lain yang mendukung kinerja kita. Selain itu, Natasha juga menyarankan bahwa milenial seharusnya memanfaatkan teknologi secara bijak dan optimal demi kepentingan bersama di dalam hubungan kerja.

Puji Tania Ronauli menambahkan bahwa terdapat perbedaan antara prioritas pilihan generasi 
di tempat kerja. Mengikutsertakan milenial dalam hubungan kerja memang memiliki tantangan sendiri. Namun, potensi dan karakteristik milenial dapat dioptimalkan untuk mendukung pencapaian tujuan dan potensi maksimal suatu organisasi. Kekuatan milenial yang dapat organisasi maksimalkan yaitu, work-life balance, antusias dan penuh semangat dalam membawa kebaruan, passionate, tech savvy, dan  collaborative. Dengan begitu, organisasi akan mampu membuat mereka bekerja secara efektif dan lebih adaptif dibanding generasi sebelumnya.




Dalam melakukan engaging dengan generasi Y ini dapat dilakukan dalam beberapa upaya. Antara lain, mengijinkan milenial mengerti dan menemukan relevansi makna atau tujuan mereka dengan organisasi, mengijinkan menata hidupnya untuk mencapai multiple-goals dengan flexible hours/remote working tetap dengan komitmen dan target. Selain itu, diharapkan atasan bisa menjadi pimpinan sekaligus mentor bagi pegawai. 

Organisasi juga bisa memaksimalkan kemampuan mereka dalam teknologi dan memberikan apresiasi verbal berupa ucapan terima kasih atau pujian, Ada kalanya milenial juga membutuhkan brainstorming untuk memperkuat tim kerja dan mendukung kinerja mereka. Selanjutnya, ketika hubungan kerja dan kinerja semakin baik, organisasi dapat selalu memotivasi bahwa masa depan dan kesuksesan organisasi ada pada mereka. Memberikan kepercayaan untuk terlibat dan mengerjakan proyek – proyek yang penting.

Pada akhir sesi pemaparan, Ilafi Rani selaku moderator memandu tanya jawab yang telah disampaikan peserta melalui link workshop. Tanya jawab ini semakin membuka seluruh generasi khususnya milenial yang ada di Itjen Kemenkeu, bahwa saling memahami karakteristik masing-masing generasi dapat membantu kelangsungan organisasi dalam mencapai tujuan bersama.



ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN