Menjadikan Krisis Momentum untuk Membangun Pondasi Negara

oleh Elzami Haqie, diterbitkan pada 2020-10-31 06:55:35
Liputan Utama Berita Utama




Jakarta, 31 Oktober 2020 – “Dengan ini, tutuplah suatu masa dalam sejarah keuangan Republik Indonesia. Masa yang penuh dengan penderitaan dan kesukaran bagi rakyat kita. Uang sendiri itu adalah tanda kemerdekaan Negara,” pidato ini disampaikan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta saat detik-detik peluncuran Oeang Republik Indonesia (ORI) di tahun 1946. Jumat (30/10) kemarin menandai tepat 74 tahun sejak emisi pertama ORI. Tujuh puluh empat tahun sudah rakyat Indonesia menggunakan alat pembayaran yang sah penanda kemerdekaan dan kedaulatan negara tercinta. Jika lebih dari 74 tahun yang lalu Indonesia melawan penjajah, tahun ini kita juga tengah berjuang melawan pandemi COVID-19. Situasi yang serba terbatas ini tidak menyurutkan semangat punggawa Kementerian Keuangan untuk mengikuti Upacara Peringatan Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) ke-74 yang diselenggarakan secara daring pagi ini.



Karena kondisi pandemi, HORI tahun ini diperingati secara sederhana dan penuh kehati-hatian menaati protokol kesehatan. Kondisi pandemi pula yang melatarbelakangi pemilihan tema peringatan HORI ke-74: “Peduli, Responsif, Adaptif Atasi Pandemi, Bangkitkan Ekonomi”. Dalam kesempatan ini Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan jajarannya untuk menjaga kepedulian dan kerjasama seluruh pihak di Kementerian Keuangan. Terlebih Kementerian Keuangan memegang posisi sentral dalam penanganan pandemi.

Upaya membangun ekonomi Indonesia tidak selalu mudah. Berbagai rintangan telah kita lalui, mulai dari era nasionalisasi, hiperinflasi, krisis keuangan 1998, hingga krisis global 2008. Namun bangsa Indonesia berhasil melewati setiap krisis tersebut dengan menjadi lebih kuat melalui pembelajaran yang diterima. Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap Indonesia juga mampu melewati krisis kali ini dengan semangat yang sama.

Negara harus melihat krisis sebagai kesempatan untuk melakukan reformasi, merencanakan langkah-langkah yang tepat untuk tidak hanya melewati krisis, namun juga memperkuat pondasi bangsa. Kecermatan ekstra tentu diperlukan, sebab krisis pandemi ini bukan hanya masalah kesehatan, namun juga masalah sosial, ekonomi, dan keuangan. Dari sisi keuangan, diharapkan kondisi kuartal ketiga dapat meningkat dari pelemahan di kuartal kedua. “Lindungi mereka yang terdampak, kuatkan mereka yang berjuang, dan pulihkan dunia usaha,”ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani kembali mengingatkan jajarannya untuk terus peduli pada lingkungan sekitarnya. Ia mengapresiasi berbagai bentuk kegiatan sosial yang diselenggarakan Kementerian Keuangan. Bentuk kepedulian juga bisa dengan mewujudkan kebijakan-kebijakan yang mampu mendorong ekonomi Indonesia. Kementerian Keuangan harus antisipatif dan responsif dengan dinamika perubahan terkait kebijakan tersebut.

Untuk mengawal pemulihan ekonomi dan melanjutkan reformasi struktural, seluruh jajaran Kementerian Keuangan harus terus aktif menunaikan tugas dan fungsinya, maupun dalam berinteraksi sosial. Kondisi pandemi memang memaksa pegawai lebih banyak bekerja dari rumah. Tapi hal ini bukanlah halangan bagi Kementerian keuangan untuk tetap bekerja 100%.

“Karena suara Kementerian Keuangan, suara yang memberikan solusi. Suara untuk bisa menjernihkan suasana adalah suara yang kita butuhkan saat ini untuk berjuang menghadapi COVID-19,” tegas Sri Mulyani.

Dirgahayu Oeang Republik Indonesia, Dirgahayu Kementerian Keuangan.



ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN